Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Bekerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bekerja. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 April 2013

4 Tips untuk Atasi Jika Bekerja di Kantor yang Didominasi Perempuan

Reko blog's - Umumnya, pria yang bekerja di lingkungan kantor yang didominasi wanita, mengalami kesulitan untuk beradaptasi. Sebab, tempat kerja yang mayoritas wanita biasanya menerapkan budaya dan cara kerja tertentu. Apakah Anda mengalaminya?

Jika demikian, sebaiknya atasi dengan empat cara ini, seperti dirangkum dari Career Builder :

1. Berbagi Apa yang Dirasakan
Apabila ada masalah dalam pekerjaan, biasanya wanita akan lebih terbuka untuk mengungkapkannya. Namun berbeda dengan pria, mereka cenderung lebih tertutup. Oleh karena itu, sebaiknya mulailah untuk bisa berbagi apa yang dirasakan dan diskusikanlah. Lingkungan kantor seperti ini juga memungkinkan Anda untuk lebih terbuka dalam mengemukakan ide dan mencapai tujuan bersama.

2. Hati-hati dengan Bully
Tak sedikit wanita yang gemar melakukan bully di kantor. Sebab, pekerjaan wanita terbiasa harus berjuang untuk bisa mendapatkan kesetaraan dalam bekerja. Sehingga sikapnya pun cenderung lebih berani. Apabila Anda didiskriminasi atau bully di kantor, tak ada salahnya mengungkapkan hal tersebut kepada atasan.

3. Tonjolkan Sisi Lembut
Biasanya pria berbicara dengan suara yang keras dan sedikit kasar. Namun perilaku seperti ini cenderung tak bisa diterima di lingkungan kantor yang didominasi wanita karena mereka lebih sensitif. Akan lebih baik bila sedang berkomunikasi dengan rekan kerja wanita, Anda lebih bersikap sopan, lembut, dan menghargai mereka.

4. Bangga dengan Pekerjaan
Jika memang profesi Anda yang didominasi oleh wanita ini merupakan passion Anda, maka berbanggalah dengan pekerjaan tersebut. Lakukanlah yang terbaik meskipun profesi yang dijalani mungkin dianggap sebagai pekerjaan yang feminin.

Rabu, 10 April 2013

Karyawan Pemalas Lebih Bahagia Saat Bekerja

Reko blog's - Sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa pada 42 persen perusahaan, karyawan yang malas adalah karyawan yang paling bahagia saat bekerja, seperti dilansir oleh Inc.com (29/03).

Uniknya, karyawan yang lebih santai dan malas bekerja justru lebih menyukai pekerjaan mereka dibandingkan karyawan yang selalu berprestasi dan menjadi anak emas.

Karyawan pemalas juga merasa bahwa perusahaan tempat mereka bekerja merupakan perusahaan hebat.

Survei yang dilakukan oleh Leadership IQ, firma yang berbasis di Atlanta, menemukan bahwa karyawan pemalas juga lebih termotivasi dan terhubung dengan pekerjaan mereka. Mengejutkan bukan?

Yang lebih unik lagi, meski mereka tergolong lebih malas bekerja dibanding rekan kerja lainnya, para karyawan pemalas ini justru merasa mereka melakukan pekerjaan lebih baik dibanding karyawan lainnya.

Bagaimana mungkin?

Ketua penelitian menjabarkan bahwa karyawan yang memiliki performa rendah biasanya hanya diberikan tugas-tugas dasar yang mudah. Karena itu, mereka tidak merasa stres dengan pekerjaan mereka dan lebih puas atas pencapaian mereka.

Para karyawan pemalas ini juga merasa mereka telah memberikan 100 persen tenaga dan kemampuan mereka untuk pekerjaan.

Minggu, 07 April 2013

Jadi Karyawan atau Buka Usaha Sendiri?

Reko blog's - Ada dua pilihan profesi untuk sandaran hidup masa depan : menjadi karyawan atau berwirausaha. Bagaimana menentukan pilihan yang lebih tepat untuk kita?

Konsultan Karir di Bina Sarana Informatika Heri Kuswara mengatakan, sejak kuliah di semester pertama mahasiswa harus sudah menentukan pilihan profesi : bekerja atau berwirausaha. Dilihat dari teori perjalanan karier, ujarnya, usia ideal mengambil keputusan profesi di bidang tertentu adalah 18 tahun. Keputusan inilah yang akan melatari bidang kompetensi yang akan didalami selama masa perkuliahan.

Lebih lanjut ia menjelaskan, ada tiga tahapan penting dalam perjalanan karier seseorang :

Pertama adalah tahapan karier fantasi untuk anak usia 0-12 tahun. Di usia ini, cita-cita anak cenderung berubah-ubah, sesuai situasi, kondisi, berdasarkan interaksi dan apa yang dia lihat.

Kedua adalah tahap perencanaan karier tentatif yang terjadi di kisaran usia 12-18 tahun. Di tahap ini seseorang sudah mulai memilah-milah profesi. “Misalnya dia ingin menjadi wartawan, tetapi kemudian mempertimbangkan risiko pekerjaan tersebut. Setelah mempertimbangkannya, ia ganti memilih profesi lain,” jelasnya.

Ketiga adalah tahap karir realistis. Di usia 18 tahun, tepatnya pada semester awal kuliah, setiap mahasiswa harus memasuki tahapan karir realistis. Idealnya mereka tidak lagi memilah-milah, tapi sudah memilih profesi yang sesuai minat dan didukung kompetensi.

Artinya bila dia memilih menjadi seorang akuntan, maka minat tersebut harus didukung latar belakang keilmuan di bidang akuntansi.

Jika pilihannya adalah menjadi karyawan di sebuah perusahaan, maka mahasiswa perlu memiliki perencanaan karier jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.

Misalnya :
- Perencanaan karir jangka pendek (0-2 tahun) harus ada target menguasai/memahami ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki atau didalami.

- Jangka menengah (2-5 tahun) targetnya adalah mengasah kemampuan yang dimiliki.

- Jangka panjang (5 tahun ke atas) targetnya adalah memiliki keahlian dan pengalaman di bidang tersebut.

Sebaliknya, jika ingin menjadi pebisnis atau berwirausaha, berikut yang mesti dipersiapkan :

1. Sejak awal kuliah, kita harus belajar belajar bagaimana membuat perencanaan bisnis (business plan) yang baik.

2. Harus banyak bergaul dan berinterakasi dengan orang-orang di dunia usaha. Tujuannya supaya bisa masuk ke lingkungan dunia usaha.

3. Harus banyak mencari inspirasi dari success story (kisah sukses) para wirausahawan.

4. Bisnis sifatnya fluktuatif, ada masa naik dan turun. Agar kita bisa tetap menikmati bisnis di tengah situasi yang fluktuatif, maka pilihlah bisnis yang diminati, disukai, menjadi hobi, dan kita memiliki kompetensi di bidang tersebut.

Selanjutnya, pilihan ada di tangan Anda.

Selasa, 02 April 2013

RocketIdea : Tempat untuk Berbagi Ide Kreatif

Reko blog's - RocketIdea merupakan salah satu startup baru yang berguna sebagai tempat atau aplikasi untuk berbagi ide-ide kreatif ataupun inovasi bagi semua orang di dunia. Ide kreatif dan inovasi tersebut meliputi bidang bisnis, usaha, makanan, pakaian, dan sebagainya.

Keunggulan dari startup ini adalah Anda dapat berbagi ide dan inovasi secara gratis maupun berbayar. Selain itu, Anda juga akan mendapat berjuta-juta ide kreatif yang dibagikan secara gratis. Tentu Anda juga akan mendapatkan teman atau komunitas baru dengan orang-orang yang dipenuhi ide kreatif dan banyak inovasi di dalam otak mereka.

RocketIdea menyediakan langkah yang mudah bagi Anda yang berminat untuk bergabung di dalamnya. Syaratnya adalah Anda harus berumur 18 tahun ke atas.

Untuk proses registrasinya, Anda hanya perlu mendaftar menggunakan akun Twitter. Anda juga dapat melakukan registrasi manual dengan mengisi informasi yang dibutuhkan oleh RocketIdea pada kolom yang telah disediakan.

Bergabung dalam RocketIdea juga tidak ditarik biaya sepeser pun alias gratis. Tetapi Anda akan dikenakan nominal biaya tertentu jika Anda ingin menjual ide Anda melalui startup ini. RocketIdea akan menarik imbalan pada setiap ide Anda yang terjual yaitu USD 0,3 atau sebesar Rp 3 ribuan dan tambahan penarikan biaya sebesar 30 persen dari harga ide Anda.

Langkah-langkah untuk mengupload ide Anda di RocketIdea juga cukup mudah. Startup ini telah menyediakan template untuk ide Anda baik berupa teks maupun gambar.

Bagi Anda yang berminat untuk menjual ide melalui RocketIdea, tentu ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Syarat-syarat tersebut adalah ide yang Anda jual harus matang dan terencana. Setidaknya ide Anda tersebut dituangkan dalam 2 buah teks dan 2 buah gambar.

Jika ide Anda terjual, maka pembayarannya akan dilakukan melalui PayPal dengan syarat yang telah disebutkan di atas.

Berminat untuk berbagi ide di RocketIdea?